<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Material Navina - Gerakan yang Mengguncang Kota-kota (Ken Lottis) ]]></title>
		<link>https://diskusi.kitanavina.id/</link>
		<description><![CDATA[Material Navina - https://diskusi.kitanavina.id]]></description>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 15:33:25 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Resensi Buku oleh Sostenis Nggebu, M.Th.]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=18</link>
			<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 10:54:59 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=18</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota</span></span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Identitas Buku</span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"><!-- start: postbit_attachments_attachment -->
<br /><!-- start: attachment_icon -->
<img src="https://diskusi.kitanavina.id/images/attachtypes/image.png" title="JPG Image" border="0" alt=".jpg" style="vertical-align: sub;" />
<!-- end: attachment_icon -->&nbsp;&nbsp;<a href="attachment.php?aid=6" target="_blank" title="">Gerakan yang Mengguncang Kota-kota Front Cover small.jpg</a> (Size: 185.16 KB / Downloads: 0)
<!-- end: postbit_attachments_attachment --> Judul: Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Will This Rock ini Rio?</span></span> <br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">ISBN: 9789792483369</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Penulis: Ken Lottis</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Tahun: 2026</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Halaman: 336</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Penerbit: NavPress, Bandung</span><br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span></span><br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span></span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Santai bersama: Cavesinho</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> (<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">ayo, minum kopi</span>) sebagai sarana membuka percakapan dan mencairkan suasana. Ini ajakan yang penuh persahabatan atau mengakrabkan relasi. Selalu ada cerita tentang <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho </span>dalam narasi Lottis. Ini bukan hanya sebuah tradisi dalam budaya Brasil yang gemar meneguk secangkir kopi. Tetapi ini menggambarkan kesediaan hati yang tulus agar dapat menyatu dengan kebiasaan orang-orang yang dijangkaunya. Ketika membangun hubungan dengan mahasiswa, <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho</span> sebagai pengikat yang alamiah, mereka bisa tertawa dan bebas berdiskusi apa saja, termasuk isi Alkitab.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Mengenal pergumulan batin atau kebutuhan pribadi tiap sahabat barunya.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Sejumlah orang yang disebutkan namanya, Ken memaparkan watak mereka dengan sangat baik. Juga ia mengemukakan permasalahan mereka dan membawa mereka kembali kepada Alkitab. Seperti problema seorang pemuda tentang seks bebas. Ken membuka Alkitab dan meminta mahasiswa itu membaca firman Allah (1 Kor 6:12-20, lihat hlm 223-226). Mahasiswa itu mengambil komitmen untuk tidak melakukan “sesuatu” yang dianggap normal dalam budaya setempat.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menghadapi banyak orang yang buta rohani. </span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Kitab Injil Yohanes menjadi sarana dalam membuka <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Domingao</span> (istilah untuk sharing bersama di akhir pekan). Alasannya bahwa Lottis hendak membawa pemikiran orang-orang berlatar belakang Katolik untuk mengenal Yesus (lihat 272-273). Orang-orang Katolik selalu mengucapkan “Anak Domba Allah menghapus dosa dunia, ampunilah kami.” Mereka mengucapkan tanpa mengenal siapa Dia atau tahu sumbernya dari mana? Seorang pria yang pernah studi iman dan teologi di Eropa yang membaca ayat in; ia sangat kaget, bahwa ternyata ayat tersebut bersumber dari Alkitab dan barulah ia sadar bahwa itu adalah Yesus (Yoh 1:29). Ini pemahaman baru bagi teolog yang buta rohani itu. Ia makin tertarik ikut <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Domingao</span>. Betapa banyak orang seperti bapak tersebut di sekitar kita!</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menolong Mario secara total.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Dalam pasal 24, Ken mempertaruhkan pengurbanan yang berharga dalam menolong Mario yang menderita kanker hingga akhir hayatnya. Membawa Mario ke dokter, lalu terbang bersamanya ke USA untuk perawatan penyakit kanker yang dideritanya. Hari-hari terakhir Mario berjuang dengan kanker, Kent selalu hadir. Menyaksikan anak rohaninya mengembuskan napas terakhir. Dan, bahkan memakamkannya juga. Narasi ini sungguh mendebarkan hati. Ken memperlihatkan diri sebagai orangtua rohani dan juga sebagai seorang hamba melayani secara total. Dia telah melakukan yang berbaik bagi Mario, melampaui batas. Luar biasa!!</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Gairah bersekutu dalam Allelon.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Ken sangat kreatif dalam mengemukakan suatu konsep dan menarasikannya (209-219). Apa itu <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Allelon</span>? Kata ini berarti “satu sama lain” (<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">one another</span>). Dalam merintis PA di pasangan muda yang terdiri dari lima orang disebut Kelompok 5 A. Dalam kelompok ini, Ken menekankan bahwa mereka harus saling mengasihi, mengenal, rela berbagi dan menerima (tanpa menghakimi jika ada yang berbagi suatu yang beban yang mengganjal dalam hati). Yang lain harus menerima dan mendoakan. Itulah artinya makna satu sama lain. Masalah seseorang menjadi masalah kita bersama: mari mendoakannya! Kelompok LIMA A tersebut ternyata menjadi virus yang mengguncangkan Rio. Inilah inti dari buku Lottis. Kelompok LIMA A mulai menular dan menyebar dari mulut ke mulut. Dahsyat menang karya Tuhan kita Yesus Kristus. </span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Mendampingi alumni tanpa pamrih.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Lottis bercerita tentang upaya menolong empat mahasiswa/alumni untuk mencari pekerjaan magang di Sao Paulo (hlm. 157-166). Ia selama seminggu menyetir berjam-jam ke kota itu; menghadapi macet yang keterlaluan; menunggu mereka melamar dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Adakalanya mereka ditolak di depan pintu pagar. Lottis sabar menemani dan berjuang bersama demi masa depan anak-anak rohaninya dan yang lebih penting bagi masa depan Navigator di Brasil. Dedikasi ini sebagai harga mahal yang dibayar dalam merintis pelayanan! Situasi ini mirip dengan pengalaman banyak hamba-hamba Tuhan di Navina juga.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menulis di Masa Tua</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">. Ken yang sempat dicurigai sebagai agen CIA ini mengatakan bahwa ia menulis buku ini di usia 73 tahun—angka yang sama persis usia ayahnya meninggal (hlm 155). Suatu gambaran realis demi mengenang sang ayah. Saya sejak awal berpikir apa yang menjadi sumber dari buku? Ingatan yang kuatkah? Ternyata di bagian-bagian akhir terkuak sumber penulis buku ini berdasarkan jurnal pribadi yang tersimpan rapi dalam amplop manila sehingga mudah ditemukan. Luar biasa. Pentingnya mengarsipkan dokumen atau catatan pribadi atau surat doa. Semua ini tidak asing bagi orang Navigator. Jadi inspirasinya, tiap Staf Navina bisa memunculkan sebuah catatan perjalanan imannya sebagai kenang-kenangan untuk generasi berikutnya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Bagaikan Steger</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">. Steger sangat familiar di kalangan tukang (hlm 282), yang dipasang pada waktu pembangunan rumah atau bangunan atau apa saja. Tetapi jika sudah rampung harus dibongkar. Ken dan Carol meyakini dengan damai agar melepaskan steger di Curitiba untuk “pergi” (bukan pulang) ke USA untuk memulai pelayanan baru. Dan, rupanya Tuhan sudah menyiapkan jalan bagi mereka seperti surat yang dikirim oleh Bob Sheffield untuk menawarkan tugas baru. Menakjubkan sekali, Tuhan menuntun kehidupan Ken dan sang istri secara realis. </span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Tiada gading tanpa retak. Buku ini sangat baik sekali terjemahannya, juga layout dan pemilihan font yang tidak melelahkan mata. Satu kekurangannya adalah tiada daftar istilah. Sebenarnya dibutuhkan untuk mengelompokkan banyak istilah bahasa Portugis dan Spanyol. Seandainya sudah tersusun di halaman awal, maka akan memudahkan pembaca cepat melihat kembali istilah tersebut. Salah satunya istilah sering digunakan di halaman-halaman akhir, yakni: <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">turma, komunitas pengikut Yesus </span>(hlm. 163).</span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Pencapaian dalam karya Lottis mewariskan nilai implikasi bagi komunitas Navina adalah bahwa merintis pelayanan yang berdampak besar menuntut pengurbanan yang bersifat total, personal, dan melampaui batas-batas tugas formal. Sebagaimana filosofi <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho</span> dan <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">steger</span>, setiap anggota komunitas diajak untuk memiliki kesediaan hati dalam menyatu dengan budaya lokal, berani menginvestasikan waktu serta sumber daya secara tulus demi pergumulan pribadi orang lain—seperti yang ditunjukkan Ken saat menolong Mario—serta menjaga semangat <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Allelon</span> (saling mengasihi) sebagai fondasi gerakan yang organik. Dedikasi tanpa pamrih dalam mendampingi orang lain, ketekunan mengarsipkan jejak iman dalam jurnal, dan kerelaan untuk "dilepaskan" demi pertumbuhan pelayanan baru menjadi teladan konkret bahwa setiap harga yang dibayar dalam pelayanan adalah investasi kekal bagi lahirnya generasi penerus yang tangguh.</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Selamat menikmati buku terbaik hasil karya NavPress Indonesia di awal tahun 2026 ini! (Sostenis Nggebu, Staf Nav Bandung).</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota</span></span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Identitas Buku</span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"><!-- start: postbit_attachments_attachment -->
<br /><!-- start: attachment_icon -->
<img src="https://diskusi.kitanavina.id/images/attachtypes/image.png" title="JPG Image" border="0" alt=".jpg" style="vertical-align: sub;" />
<!-- end: attachment_icon -->&nbsp;&nbsp;<a href="attachment.php?aid=6" target="_blank" title="">Gerakan yang Mengguncang Kota-kota Front Cover small.jpg</a> (Size: 185.16 KB / Downloads: 0)
<!-- end: postbit_attachments_attachment --> Judul: Gerakan yang Mengguncangkan Kota-kota</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Will This Rock ini Rio?</span></span> <br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">ISBN: 9789792483369</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Penulis: Ken Lottis</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Tahun: 2026</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Halaman: 336</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Penerbit: NavPress, Bandung</span><br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span></span><br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> </span></span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Santai bersama: Cavesinho</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> (<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">ayo, minum kopi</span>) sebagai sarana membuka percakapan dan mencairkan suasana. Ini ajakan yang penuh persahabatan atau mengakrabkan relasi. Selalu ada cerita tentang <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho </span>dalam narasi Lottis. Ini bukan hanya sebuah tradisi dalam budaya Brasil yang gemar meneguk secangkir kopi. Tetapi ini menggambarkan kesediaan hati yang tulus agar dapat menyatu dengan kebiasaan orang-orang yang dijangkaunya. Ketika membangun hubungan dengan mahasiswa, <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho</span> sebagai pengikat yang alamiah, mereka bisa tertawa dan bebas berdiskusi apa saja, termasuk isi Alkitab.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Mengenal pergumulan batin atau kebutuhan pribadi tiap sahabat barunya.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Sejumlah orang yang disebutkan namanya, Ken memaparkan watak mereka dengan sangat baik. Juga ia mengemukakan permasalahan mereka dan membawa mereka kembali kepada Alkitab. Seperti problema seorang pemuda tentang seks bebas. Ken membuka Alkitab dan meminta mahasiswa itu membaca firman Allah (1 Kor 6:12-20, lihat hlm 223-226). Mahasiswa itu mengambil komitmen untuk tidak melakukan “sesuatu” yang dianggap normal dalam budaya setempat.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menghadapi banyak orang yang buta rohani. </span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Kitab Injil Yohanes menjadi sarana dalam membuka <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Domingao</span> (istilah untuk sharing bersama di akhir pekan). Alasannya bahwa Lottis hendak membawa pemikiran orang-orang berlatar belakang Katolik untuk mengenal Yesus (lihat 272-273). Orang-orang Katolik selalu mengucapkan “Anak Domba Allah menghapus dosa dunia, ampunilah kami.” Mereka mengucapkan tanpa mengenal siapa Dia atau tahu sumbernya dari mana? Seorang pria yang pernah studi iman dan teologi di Eropa yang membaca ayat in; ia sangat kaget, bahwa ternyata ayat tersebut bersumber dari Alkitab dan barulah ia sadar bahwa itu adalah Yesus (Yoh 1:29). Ini pemahaman baru bagi teolog yang buta rohani itu. Ia makin tertarik ikut <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Domingao</span>. Betapa banyak orang seperti bapak tersebut di sekitar kita!</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menolong Mario secara total.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Dalam pasal 24, Ken mempertaruhkan pengurbanan yang berharga dalam menolong Mario yang menderita kanker hingga akhir hayatnya. Membawa Mario ke dokter, lalu terbang bersamanya ke USA untuk perawatan penyakit kanker yang dideritanya. Hari-hari terakhir Mario berjuang dengan kanker, Kent selalu hadir. Menyaksikan anak rohaninya mengembuskan napas terakhir. Dan, bahkan memakamkannya juga. Narasi ini sungguh mendebarkan hati. Ken memperlihatkan diri sebagai orangtua rohani dan juga sebagai seorang hamba melayani secara total. Dia telah melakukan yang berbaik bagi Mario, melampaui batas. Luar biasa!!</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Gairah bersekutu dalam Allelon.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Ken sangat kreatif dalam mengemukakan suatu konsep dan menarasikannya (209-219). Apa itu <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Allelon</span>? Kata ini berarti “satu sama lain” (<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">one another</span>). Dalam merintis PA di pasangan muda yang terdiri dari lima orang disebut Kelompok 5 A. Dalam kelompok ini, Ken menekankan bahwa mereka harus saling mengasihi, mengenal, rela berbagi dan menerima (tanpa menghakimi jika ada yang berbagi suatu yang beban yang mengganjal dalam hati). Yang lain harus menerima dan mendoakan. Itulah artinya makna satu sama lain. Masalah seseorang menjadi masalah kita bersama: mari mendoakannya! Kelompok LIMA A tersebut ternyata menjadi virus yang mengguncangkan Rio. Inilah inti dari buku Lottis. Kelompok LIMA A mulai menular dan menyebar dari mulut ke mulut. Dahsyat menang karya Tuhan kita Yesus Kristus. </span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Mendampingi alumni tanpa pamrih.</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font"> Lottis bercerita tentang upaya menolong empat mahasiswa/alumni untuk mencari pekerjaan magang di Sao Paulo (hlm. 157-166). Ia selama seminggu menyetir berjam-jam ke kota itu; menghadapi macet yang keterlaluan; menunggu mereka melamar dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Adakalanya mereka ditolak di depan pintu pagar. Lottis sabar menemani dan berjuang bersama demi masa depan anak-anak rohaninya dan yang lebih penting bagi masa depan Navigator di Brasil. Dedikasi ini sebagai harga mahal yang dibayar dalam merintis pelayanan! Situasi ini mirip dengan pengalaman banyak hamba-hamba Tuhan di Navina juga.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Menulis di Masa Tua</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">. Ken yang sempat dicurigai sebagai agen CIA ini mengatakan bahwa ia menulis buku ini di usia 73 tahun—angka yang sama persis usia ayahnya meninggal (hlm 155). Suatu gambaran realis demi mengenang sang ayah. Saya sejak awal berpikir apa yang menjadi sumber dari buku? Ingatan yang kuatkah? Ternyata di bagian-bagian akhir terkuak sumber penulis buku ini berdasarkan jurnal pribadi yang tersimpan rapi dalam amplop manila sehingga mudah ditemukan. Luar biasa. Pentingnya mengarsipkan dokumen atau catatan pribadi atau surat doa. Semua ini tidak asing bagi orang Navigator. Jadi inspirasinya, tiap Staf Navina bisa memunculkan sebuah catatan perjalanan imannya sebagai kenang-kenangan untuk generasi berikutnya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i"><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Bagaikan Steger</span></span><span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">. Steger sangat familiar di kalangan tukang (hlm 282), yang dipasang pada waktu pembangunan rumah atau bangunan atau apa saja. Tetapi jika sudah rampung harus dibongkar. Ken dan Carol meyakini dengan damai agar melepaskan steger di Curitiba untuk “pergi” (bukan pulang) ke USA untuk memulai pelayanan baru. Dan, rupanya Tuhan sudah menyiapkan jalan bagi mereka seperti surat yang dikirim oleh Bob Sheffield untuk menawarkan tugas baru. Menakjubkan sekali, Tuhan menuntun kehidupan Ken dan sang istri secara realis. </span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Tiada gading tanpa retak. Buku ini sangat baik sekali terjemahannya, juga layout dan pemilihan font yang tidak melelahkan mata. Satu kekurangannya adalah tiada daftar istilah. Sebenarnya dibutuhkan untuk mengelompokkan banyak istilah bahasa Portugis dan Spanyol. Seandainya sudah tersusun di halaman awal, maka akan memudahkan pembaca cepat melihat kembali istilah tersebut. Salah satunya istilah sering digunakan di halaman-halaman akhir, yakni: <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">turma, komunitas pengikut Yesus </span>(hlm. 163).</span><br />
<br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Pencapaian dalam karya Lottis mewariskan nilai implikasi bagi komunitas Navina adalah bahwa merintis pelayanan yang berdampak besar menuntut pengurbanan yang bersifat total, personal, dan melampaui batas-batas tugas formal. Sebagaimana filosofi <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">cavesinho</span> dan <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">steger</span>, setiap anggota komunitas diajak untuk memiliki kesediaan hati dalam menyatu dengan budaya lokal, berani menginvestasikan waktu serta sumber daya secara tulus demi pergumulan pribadi orang lain—seperti yang ditunjukkan Ken saat menolong Mario—serta menjaga semangat <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Allelon</span> (saling mengasihi) sebagai fondasi gerakan yang organik. Dedikasi tanpa pamrih dalam mendampingi orang lain, ketekunan mengarsipkan jejak iman dalam jurnal, dan kerelaan untuk "dilepaskan" demi pertumbuhan pelayanan baru menjadi teladan konkret bahwa setiap harga yang dibayar dalam pelayanan adalah investasi kekal bagi lahirnya generasi penerus yang tangguh.</span><br />
<span style="font-family: Cambria, serif;" class="mycode_font">Selamat menikmati buku terbaik hasil karya NavPress Indonesia di awal tahun 2026 ini! (Sostenis Nggebu, Staf Nav Bandung).</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Umum (Setya)]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=3</link>
			<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 14:44:22 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=2">setylist</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=3</guid>
			<description><![CDATA[[08.04, 10/2/2026] Setya: Buku ini adalah buku bacaan wajib staf Navina tahun 2026...<br />
<br />
______<br />
[08.02, 10/2/2026] Perkasa: Mulai baca buku ini. Menemukan istilah menarik di hal 303 siap dijangkau , kalau ‘siap dituai’ sering kita dengar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[[08.04, 10/2/2026] Setya: Buku ini adalah buku bacaan wajib staf Navina tahun 2026...<br />
<br />
______<br />
[08.02, 10/2/2026] Perkasa: Mulai baca buku ini. Menemukan istilah menarik di hal 303 siap dijangkau , kalau ‘siap dituai’ sering kita dengar.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Totalitas Membagi Hidup (Luhut)]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=2</link>
			<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 14:40:22 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=1">admindis</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=2</guid>
			<description><![CDATA[[11.38, 10/2/2026] Luhut Manurung: <br />
<br />
dalam satu bab; <br />
keluarga Lottis ini menerima dengan senang hati <br />
usulan satu pasangan muda yang mereka nikahkan <br />
untuk tinggal di basement rumah pak Lottis.<br />
<br />
usulan mengejutkan ini datangnya dari pasangan muda ini <br />
dan jadilah dua pasangan keluarga berbagi dalam satu rumah selama setahun...<br />
<br />
Luar biasa totalitas berbagi hidupnya pasangan Pak Lottis dan istrinya Carol. <br />
Ndak kebayang bah...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[[11.38, 10/2/2026] Luhut Manurung: <br />
<br />
dalam satu bab; <br />
keluarga Lottis ini menerima dengan senang hati <br />
usulan satu pasangan muda yang mereka nikahkan <br />
untuk tinggal di basement rumah pak Lottis.<br />
<br />
usulan mengejutkan ini datangnya dari pasangan muda ini <br />
dan jadilah dua pasangan keluarga berbagi dalam satu rumah selama setahun...<br />
<br />
Luar biasa totalitas berbagi hidupnya pasangan Pak Lottis dan istrinya Carol. <br />
Ndak kebayang bah...]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Siap Dijangkau (Wawan)]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=1</link>
			<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 14:18:19 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=1">admindis</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=1</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><!-- start: postbit_attachments_attachment -->
<br /><!-- start: attachment_icon -->
<img src="https://diskusi.kitanavina.id/images/attachtypes/image.png" title="JPEG Image" border="0" alt=".jpeg" style="vertical-align: sub;" />
<!-- end: attachment_icon -->&nbsp;&nbsp;<a href="attachment.php?aid=1" target="_blank" title="">WhatsApp Image 2026-02-10 at 08.02.43.jpeg</a> (Size: 240.5 KB / Downloads: 1)
<!-- end: postbit_attachments_attachment --></span>[08.02, 10/2/2026] Perkasa: <br />
Mulai baca buku ini. Menemukan istilah menarik di hal 303 siap dijangkau , kalau ‘siap dituai’ sering kita dengar.<br />
<br />
[08.05, 10/2/2026] Perkasa: <br />
Istilah "ladang yang sudah menguning dan siap dituai" yang sering kali disalahartikan sebagai ajakan untuk mendapatkan hasil yang cepat dan masif. <br />
<br />
Padahal, pengenalan akan Yesus bukanlah sebuah transaksi instan, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang membutuhkan waktu dan ruang.<br />
<br />
Bagi kelompok masyarakat yang merasa asing atau memiliki pandangan kurang positif terhadap kekristenan,(mungkin ini masyarakat sekitar kita di konteks reg-1) pendekatan yang terburu-buru untuk "memanen" justru dapat membangun tembok pertahanan yang lebih tinggi. Masalahnya bukan pada pesannya, melainkan pada metodenya. Ketika kita hanya fokus pada hasil akhir (menjadikan mereka pengikut), kita berisiko memperlakukan manusia sebagai objek target, bukan sebagai pribadi yang berharga.<br />
<br />
Memilih Istilah "Siap Dijangkau"<br />
Sudah saatnya kita menggeser fokus dari siap dituai menjadi siap dijangkau sebagai sahabat. Perbedaan ini mendasar:<ul class="mycode_list"><li>Menuai berfokus pada apa yang kita dapatkan (hasil).<br />
</li>
<li>Menjangkau sebagai sahabat berfokus pada apa yang kita berikan (kehadiran dan kasih).<br />
</li>
</ul>
Persahabatan adalah jembatan yang paling kokoh. Melalui persahabatan, kita tidak sedang melakukan "proyek," melainkan sedang membangun kehidupan bersama. Di sinilah kasih Yesus menjadi nyata—bukan melalui khotbah di atas mimbar, melainkan melalui kesediaan untuk mendengar, empati dalam penderitaan, dan ketulusan dalam mendukung satu sama lain.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Menghargai Proses</span><br />
Proses pengenalan akan Tuhan adalah proses yang organik. Seperti benih yang membutuhkan waktu untuk berakar sebelum bertunas, demikian pula hati manusia. Dengan mengutamakan persahabatan, kita memberikan kebebasan bagi orang lain untuk mengenal kasih tanpa merasa dihakimi atau dipaksa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b"><!-- start: postbit_attachments_attachment -->
<br /><!-- start: attachment_icon -->
<img src="https://diskusi.kitanavina.id/images/attachtypes/image.png" title="JPEG Image" border="0" alt=".jpeg" style="vertical-align: sub;" />
<!-- end: attachment_icon -->&nbsp;&nbsp;<a href="attachment.php?aid=1" target="_blank" title="">WhatsApp Image 2026-02-10 at 08.02.43.jpeg</a> (Size: 240.5 KB / Downloads: 1)
<!-- end: postbit_attachments_attachment --></span>[08.02, 10/2/2026] Perkasa: <br />
Mulai baca buku ini. Menemukan istilah menarik di hal 303 siap dijangkau , kalau ‘siap dituai’ sering kita dengar.<br />
<br />
[08.05, 10/2/2026] Perkasa: <br />
Istilah "ladang yang sudah menguning dan siap dituai" yang sering kali disalahartikan sebagai ajakan untuk mendapatkan hasil yang cepat dan masif. <br />
<br />
Padahal, pengenalan akan Yesus bukanlah sebuah transaksi instan, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang membutuhkan waktu dan ruang.<br />
<br />
Bagi kelompok masyarakat yang merasa asing atau memiliki pandangan kurang positif terhadap kekristenan,(mungkin ini masyarakat sekitar kita di konteks reg-1) pendekatan yang terburu-buru untuk "memanen" justru dapat membangun tembok pertahanan yang lebih tinggi. Masalahnya bukan pada pesannya, melainkan pada metodenya. Ketika kita hanya fokus pada hasil akhir (menjadikan mereka pengikut), kita berisiko memperlakukan manusia sebagai objek target, bukan sebagai pribadi yang berharga.<br />
<br />
Memilih Istilah "Siap Dijangkau"<br />
Sudah saatnya kita menggeser fokus dari siap dituai menjadi siap dijangkau sebagai sahabat. Perbedaan ini mendasar:<ul class="mycode_list"><li>Menuai berfokus pada apa yang kita dapatkan (hasil).<br />
</li>
<li>Menjangkau sebagai sahabat berfokus pada apa yang kita berikan (kehadiran dan kasih).<br />
</li>
</ul>
Persahabatan adalah jembatan yang paling kokoh. Melalui persahabatan, kita tidak sedang melakukan "proyek," melainkan sedang membangun kehidupan bersama. Di sinilah kasih Yesus menjadi nyata—bukan melalui khotbah di atas mimbar, melainkan melalui kesediaan untuk mendengar, empati dalam penderitaan, dan ketulusan dalam mendukung satu sama lain.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Menghargai Proses</span><br />
Proses pengenalan akan Tuhan adalah proses yang organik. Seperti benih yang membutuhkan waktu untuk berakar sebelum bertunas, demikian pula hati manusia. Dengan mengutamakan persahabatan, kita memberikan kebebasan bagi orang lain untuk mengenal kasih tanpa merasa dihakimi atau dipaksa.]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>