<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Material Navina - God's Presence in Your Fundraising (Scott Morton)]]></title>
		<link>https://diskusi.kitanavina.id/</link>
		<description><![CDATA[Material Navina - https://diskusi.kitanavina.id]]></description>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 15:30:16 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Hari ke-5. Hambatan Terbesar dalam Penggalangan Dana]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=14</link>
			<pubDate>Mon, 16 Feb 2026 15:38:04 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=14</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Waktu aku merasa takut, aku percaya kepada-Mu. Kepada Allah yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?</span></span><br />
</span><br />
<div style="text-align: right;" class="mycode_align"><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #666666;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Mazmur 56:4-5</span></span></span></div>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Apa yang dikatakan para pekerja misi di seluruh dunia sebagai hambatan terbesar dalam menggalang dukungan?</span></span></span><br />
<ul class="mycode_list"><li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kurangnya kontak?</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kurangnya waktu?</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ekonomi yang buruk?</span></span></span><br />
</li>
</ul>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sebenarnya, bukan salah satu dari itu. Para pekerja misi mengatakan hambatan terbesar adalah rasa takut—takut ditolak, takut gagal, dan takut menghancurkan persahabatan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Inilah paradoksnya. Para misionaris dipanggil oleh Allah untuk melakukan pelayanan rohani yang berani. Orang-orang mencari kekuatan dari kita. Beranikah kita mengakui bahwa kita takut?</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Saya menemukan bagian Alkitab hari ini selama penugasan pelayanan pertama kami di Iowa City. Saya sedang duduk di meja dapur melakukan studi Alkitab tentang “Ketakutan.” Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak saya, Scott, kamu adalah orang yang penakut. Saya? Tidak mungkin. Aku adalah duta Kristus yang berani di dunia kafir!</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Namun pikiran itu terus berlanjut.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kemudian saya melihat kata pertama dari bagian bacaan hari ini: “Waktu.” </span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Waktu aku merasa takut, bukan jika aku takut</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">. Bahkan Daud, pemazmur yang saleh, mengakui bahwa ia memiliki ketakutan. Perlahan, saya mengakui ketakutan saya. Saya menuliskannya satu per satu, termasuk nama-nama orang-orang yang menakutkan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Setelah mengakui ketakutannya, Daud berkata, “... aku percaya kepada-Mu.” Tetapi "Percaya kepada Allah" adalah klise. Apakah itu berarti bahwa Allah tidak akan membiarkan hal-hal buruk terjadi? Hampir dengan nada bercanda, Daud menambahkan, “Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Pada pertemuan penggalangan dana Anda, akankah calon mitra pemberi Anda melemparkan </span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">latte</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">-nya kepada Anda? Tidak, tetapi bahkan jika ia melakukannya, Allah tetap bersama Anda! Kepercayaan kita ada pada Allah yang berdaulat, tidak peduli bagaimana kita diperlakukan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Salah satu gejala ketakutan batin adalah mendengarkan kebohongan yang merusak. Kita berbisik pada diri sendiri:</span></span></span><br />
<ul class="mycode_list"><li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Siapa yang mau mendukungku? Tidak ada!”</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Dia ibu tunggal, dia tidak mampu memberi.”</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Orang-orang sebenarnya tidak menyukaiku.”</span></span></span><br />
</li>
</ul>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sebelum bergabung dengan pelayanan, saya bekerja di sebuah surat kabar menjual iklan. Salah satu klien saya adalah Ralph's Grocery, dan Ralph telah menjadi teman saya. Tetapi suatu pagi Senin ketika saya keluar dari mobil di tempat parkir Ralph, saya bertanya-tanya dalam hati dengan kesal. Saya yakin dia bahkan tidak menyukai saya. Apakah Ralph ingin bertemu saya hari ini? Dia sibuk. Saya mungkin ….</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Jadi, saya kembali ke mobil dan pergi ke klien saya berikutnya di toko kamera. Suara itu kembali, “Pemilik toko kamera terlalu sibuk untuk menemuimu. Dan dia juga tidak menyukaimu.”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sepanjang pagi, saya mendengarkan kebohongan itu. Dan itu melumpuhkan saya. Tanggapan saya? Saya butuh es krim cokelat!</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">2 Timotius 1:7 berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketakutan? Itu tidak terlalu buruk. Setiap orang terkadang merasa takut. Tetapi ketakutan dalam bahasa Yunani (</span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">deilia</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">) berarti pengecut. Allah tidak memberi kita roh pengecut.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketika Anda menerima Yesus Kristus, Anda menerima Roh-Nya—Roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri (kedisiplinan—red). Anda tidak menerima roh pengecut! Sebaliknya, tuliskan ketakutan Anda dengan berani, dan Anda akan berada di jalan untuk mengatasinya.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketika rasa takut menghampiri Anda, terapkan 2 Timotius 1:7: "Allah memberikan kepada __________ [nama Anda] bukan roh ketakutan. Allah telah memberi __________ [nama Anda] Roh-Nya yang penuh kuasa, kasih, dan disiplin!"</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Tidak salah untuk memiliki rasa takut, tetapi salah untuk hidup dalam ketakutan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span></span></span></span><br />
<span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Bapa kebenaran, saya merasa sulit untuk mengakui bahwa saya memiliki ketakutan. Namun seperti Raja Daud, kini aku dengan jujur mengakui bahwa aku takut akan __________ dan _________. Bantulah aku untuk percaya kepada-Mu dan berani setiap kali aku takut. Amin.</span></span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Waktu aku merasa takut, aku percaya kepada-Mu. Kepada Allah yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?</span></span><br />
</span><br />
<div style="text-align: right;" class="mycode_align"><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #666666;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Mazmur 56:4-5</span></span></span></div>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Apa yang dikatakan para pekerja misi di seluruh dunia sebagai hambatan terbesar dalam menggalang dukungan?</span></span></span><br />
<ul class="mycode_list"><li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kurangnya kontak?</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kurangnya waktu?</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ekonomi yang buruk?</span></span></span><br />
</li>
</ul>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sebenarnya, bukan salah satu dari itu. Para pekerja misi mengatakan hambatan terbesar adalah rasa takut—takut ditolak, takut gagal, dan takut menghancurkan persahabatan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Inilah paradoksnya. Para misionaris dipanggil oleh Allah untuk melakukan pelayanan rohani yang berani. Orang-orang mencari kekuatan dari kita. Beranikah kita mengakui bahwa kita takut?</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Saya menemukan bagian Alkitab hari ini selama penugasan pelayanan pertama kami di Iowa City. Saya sedang duduk di meja dapur melakukan studi Alkitab tentang “Ketakutan.” Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak saya, Scott, kamu adalah orang yang penakut. Saya? Tidak mungkin. Aku adalah duta Kristus yang berani di dunia kafir!</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Namun pikiran itu terus berlanjut.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Kemudian saya melihat kata pertama dari bagian bacaan hari ini: “Waktu.” </span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Waktu aku merasa takut, bukan jika aku takut</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">. Bahkan Daud, pemazmur yang saleh, mengakui bahwa ia memiliki ketakutan. Perlahan, saya mengakui ketakutan saya. Saya menuliskannya satu per satu, termasuk nama-nama orang-orang yang menakutkan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Setelah mengakui ketakutannya, Daud berkata, “... aku percaya kepada-Mu.” Tetapi "Percaya kepada Allah" adalah klise. Apakah itu berarti bahwa Allah tidak akan membiarkan hal-hal buruk terjadi? Hampir dengan nada bercanda, Daud menambahkan, “Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Pada pertemuan penggalangan dana Anda, akankah calon mitra pemberi Anda melemparkan </span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">latte</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">-nya kepada Anda? Tidak, tetapi bahkan jika ia melakukannya, Allah tetap bersama Anda! Kepercayaan kita ada pada Allah yang berdaulat, tidak peduli bagaimana kita diperlakukan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Salah satu gejala ketakutan batin adalah mendengarkan kebohongan yang merusak. Kita berbisik pada diri sendiri:</span></span></span><br />
<ul class="mycode_list"><li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Siapa yang mau mendukungku? Tidak ada!”</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Dia ibu tunggal, dia tidak mampu memberi.”</span></span></span><br />
</li>
<li><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">“Orang-orang sebenarnya tidak menyukaiku.”</span></span></span><br />
</li>
</ul>
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sebelum bergabung dengan pelayanan, saya bekerja di sebuah surat kabar menjual iklan. Salah satu klien saya adalah Ralph's Grocery, dan Ralph telah menjadi teman saya. Tetapi suatu pagi Senin ketika saya keluar dari mobil di tempat parkir Ralph, saya bertanya-tanya dalam hati dengan kesal. Saya yakin dia bahkan tidak menyukai saya. Apakah Ralph ingin bertemu saya hari ini? Dia sibuk. Saya mungkin ….</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Jadi, saya kembali ke mobil dan pergi ke klien saya berikutnya di toko kamera. Suara itu kembali, “Pemilik toko kamera terlalu sibuk untuk menemuimu. Dan dia juga tidak menyukaimu.”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Sepanjang pagi, saya mendengarkan kebohongan itu. Dan itu melumpuhkan saya. Tanggapan saya? Saya butuh es krim cokelat!</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">2 Timotius 1:7 berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.”</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketakutan? Itu tidak terlalu buruk. Setiap orang terkadang merasa takut. Tetapi ketakutan dalam bahasa Yunani (</span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-style: italic;" class="mycode_i">deilia</span></span><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">) berarti pengecut. Allah tidak memberi kita roh pengecut.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketika Anda menerima Yesus Kristus, Anda menerima Roh-Nya—Roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri (kedisiplinan—red). Anda tidak menerima roh pengecut! Sebaliknya, tuliskan ketakutan Anda dengan berani, dan Anda akan berada di jalan untuk mengatasinya.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Ketika rasa takut menghampiri Anda, terapkan 2 Timotius 1:7: "Allah memberikan kepada __________ [nama Anda] bukan roh ketakutan. Allah telah memberi __________ [nama Anda] Roh-Nya yang penuh kuasa, kasih, dan disiplin!"</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Tidak salah untuk memiliki rasa takut, tetapi salah untuk hidup dalam ketakutan.</span></span></span><br />
<br />
<span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span></span></span></span><br />
<span style="color: #000000;" class="mycode_color"><span style="font-size: medium;" class="mycode_size"><span style="font-family: Spectral, serif;" class="mycode_font">Bapa kebenaran, saya merasa sulit untuk mengakui bahwa saya memiliki ketakutan. Namun seperti Raja Daud, kini aku dengan jujur mengakui bahwa aku takut akan __________ dan _________. Bantulah aku untuk percaya kepada-Mu dan berani setiap kali aku takut. Amin.</span></span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hari ke-4: Keluar dari Zona Nyaman Anda?]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=13</link>
			<pubDate>Sun, 15 Feb 2026 11:12:13 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=13</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Hari ke-4: Keluar dari Zona Nyaman Anda?</span><br />
<br />
“Pergilah sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan.“<br />
1 Raja-raja 17:9<br />
<br />
Meminta seseorang untuk keluar dari zona nyamannya dianggap sebagai perilaku buruk, melanggar batas, dan sangat tidak sopan. Tetapi Bapa kita di Surga bertindak berbeda. Dalam teks hari ini, Tuhan memerintahkan nabi Elia untuk meninggalkan zona nyamannya untuk menyentuh kehidupan seorang janda miskin. Ini menciptakan perubahan yang tidak nyaman bagi Elia.<br />
Apakah Anda tahu kisahnya?<br />
<br />
Dalam pelarian dari Ratu Izebel yang jahat, Tuhan memerintahkan Elia untuk bersembunyi di tepi Sungai Kerit, di sebelah timur Yordan. Secara ajaib, burung gagak membawa makanan kepada Elia setiap hari, dan ia minum dari sungai itu; ini adalah penyediaan Tuhan selama masa penantian. Itu bukanlah makanan yang seimbang, tetapi cukup untuk seorang nabi<br />
yang sedang bersembunyi!<br />
<br />
Namun, dalam kedaulatan Allah, Sungai Kerit mengering. Allah kemudian memerintahkan Elia untuk mencari seorang janda di Sarfat di Sidon, kota asal Izebel. Kita dapat membayangkan Elia bertanya, “Benarkah? Sidon? Tanah kafir Izebel yang<br />
sedang berusaha membunuhku?“<br />
<br />
Penduduk Sidon—yang rajanya adalah ayah dari Izebel—makmur. Mereka memasarkan pewarna ungu berharga dari cangkang kerang Murex yang ditemukan di perairan pesisir mereka. Dan mereka menyembah Baal (dewa badai) dan pasangannya Astarte (dewa kesuburan). Ratu Izebel membawa praktik pengorbanan anak dan pergaulan bebas seksual ke bangsa Yahudi. Elia telah berbicara menentang praktik-praktik keagamaan yang bejat ini dan sekarang berada dalam daftar target Izebel. Sarfat di Sidon—bukan tempat yang nyaman bagi seorang nabi Yahudi!<br />
<br />
Meskipun demikian, Elia taat dan melakukan perjalanan sejauh 125 km ke Sidon. Menemukan seorang janda yang sedang mengumpulkan ranting di dekat gerbang di Sarfat, ia meminta roti dan air kepadanya. Dengan pesimis, janda dari Sarfat itu berkata bahwa ia hanya memiliki cukup makanan untuk satu kali makan. Aduh, pikir Elia, mungkin ini bukan janda yang dimaksud Allah.<br />
Namun janda itu dengan penuh pengorbanan memberikan apa yang dimilikinya kepada nabi Yahudi itu. Ia tidak mati kelaparan, melainkan “ia dan keluarganya makan selama berhari-hari“ (1 Raja-raja 17:15) dari semangkuk tepung yang tidak pernah habis. Mukjizat ini menimbulkan kehebohan besar tentang Allah Israel di Sidon!<br />
<br />
Apa yang terjadi di sini? Di Sungai Kerit, Elia memiliki makanan dan air dan aman dari Izebel. Ia merasa nyaman. Tetapi rencana Allah membutuhkan pengambilan risiko—Elia harus pergi ke Sarfat di Sidon dan meminta bantuan kepada seorang janda yang hampir mati.<br />
<br />
Dengan cara yang serupa, para pekerja misi mengatakan kepada saya bahwa penggalangan dana memaksa mereka keluar dari zona nyaman dan masuk ke area ketidaknyamanan. Tetapi di sanalah mereka menemukan pelayanan yang lebih luas dan pendanaan yang lebih besar. Dan mereka menemukan ukuran tambahan dari kasih karunia Allah, kemampuan supranatural untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Di mana Elia memberikan dampak terbesar? Di Sungai Kerit sendirian bersama burung gagak atau di antara orang asing di Sidon? Saat saya merenungkan tahun-tahun pelayanan saya, saya yakin bahwa Tuhan paling banyak menggunakan saya ketika saya meninggalkan zona nyaman saya dan mengambil risiko untuk berinteraksi dengan orang-orang baru—bahkan orang-orang yang membuat saya merasa tidak nyaman.<br />
<br />
Bagaimana dengan Anda? Di mana Sidon Anda? Kapan Anda merasa keluar dari zona nyaman Anda? Penggalangan dana? Penginjilan? Menjadi orang tua? Saat terjadi konflik? Berbicara di depan umum?<br />
<br />
Ayat dalam 2 Korintus 12:9 tertulis, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Bangkitlah, pergilah ke Sidon!<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa segala penghiburan, saya lebih menyukai dalam batasan yang nyaman dari zona nyaman saya sendiri. Tetapi saat saya menaati-Mu, saya tahu saya perlu mengambil risiko dan menghadapi ketidaknyamanan saya. Namun, saya masih ragu. Semoga saya menerima kasih karunia-Mu setiap hari untuk melangkah maju seperti Elia dalam pelayanan dan penggalangan dana. Amin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Hari ke-4: Keluar dari Zona Nyaman Anda?</span><br />
<br />
“Pergilah sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan.“<br />
1 Raja-raja 17:9<br />
<br />
Meminta seseorang untuk keluar dari zona nyamannya dianggap sebagai perilaku buruk, melanggar batas, dan sangat tidak sopan. Tetapi Bapa kita di Surga bertindak berbeda. Dalam teks hari ini, Tuhan memerintahkan nabi Elia untuk meninggalkan zona nyamannya untuk menyentuh kehidupan seorang janda miskin. Ini menciptakan perubahan yang tidak nyaman bagi Elia.<br />
Apakah Anda tahu kisahnya?<br />
<br />
Dalam pelarian dari Ratu Izebel yang jahat, Tuhan memerintahkan Elia untuk bersembunyi di tepi Sungai Kerit, di sebelah timur Yordan. Secara ajaib, burung gagak membawa makanan kepada Elia setiap hari, dan ia minum dari sungai itu; ini adalah penyediaan Tuhan selama masa penantian. Itu bukanlah makanan yang seimbang, tetapi cukup untuk seorang nabi<br />
yang sedang bersembunyi!<br />
<br />
Namun, dalam kedaulatan Allah, Sungai Kerit mengering. Allah kemudian memerintahkan Elia untuk mencari seorang janda di Sarfat di Sidon, kota asal Izebel. Kita dapat membayangkan Elia bertanya, “Benarkah? Sidon? Tanah kafir Izebel yang<br />
sedang berusaha membunuhku?“<br />
<br />
Penduduk Sidon—yang rajanya adalah ayah dari Izebel—makmur. Mereka memasarkan pewarna ungu berharga dari cangkang kerang Murex yang ditemukan di perairan pesisir mereka. Dan mereka menyembah Baal (dewa badai) dan pasangannya Astarte (dewa kesuburan). Ratu Izebel membawa praktik pengorbanan anak dan pergaulan bebas seksual ke bangsa Yahudi. Elia telah berbicara menentang praktik-praktik keagamaan yang bejat ini dan sekarang berada dalam daftar target Izebel. Sarfat di Sidon—bukan tempat yang nyaman bagi seorang nabi Yahudi!<br />
<br />
Meskipun demikian, Elia taat dan melakukan perjalanan sejauh 125 km ke Sidon. Menemukan seorang janda yang sedang mengumpulkan ranting di dekat gerbang di Sarfat, ia meminta roti dan air kepadanya. Dengan pesimis, janda dari Sarfat itu berkata bahwa ia hanya memiliki cukup makanan untuk satu kali makan. Aduh, pikir Elia, mungkin ini bukan janda yang dimaksud Allah.<br />
Namun janda itu dengan penuh pengorbanan memberikan apa yang dimilikinya kepada nabi Yahudi itu. Ia tidak mati kelaparan, melainkan “ia dan keluarganya makan selama berhari-hari“ (1 Raja-raja 17:15) dari semangkuk tepung yang tidak pernah habis. Mukjizat ini menimbulkan kehebohan besar tentang Allah Israel di Sidon!<br />
<br />
Apa yang terjadi di sini? Di Sungai Kerit, Elia memiliki makanan dan air dan aman dari Izebel. Ia merasa nyaman. Tetapi rencana Allah membutuhkan pengambilan risiko—Elia harus pergi ke Sarfat di Sidon dan meminta bantuan kepada seorang janda yang hampir mati.<br />
<br />
Dengan cara yang serupa, para pekerja misi mengatakan kepada saya bahwa penggalangan dana memaksa mereka keluar dari zona nyaman dan masuk ke area ketidaknyamanan. Tetapi di sanalah mereka menemukan pelayanan yang lebih luas dan pendanaan yang lebih besar. Dan mereka menemukan ukuran tambahan dari kasih karunia Allah, kemampuan supranatural untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Di mana Elia memberikan dampak terbesar? Di Sungai Kerit sendirian bersama burung gagak atau di antara orang asing di Sidon? Saat saya merenungkan tahun-tahun pelayanan saya, saya yakin bahwa Tuhan paling banyak menggunakan saya ketika saya meninggalkan zona nyaman saya dan mengambil risiko untuk berinteraksi dengan orang-orang baru—bahkan orang-orang yang membuat saya merasa tidak nyaman.<br />
<br />
Bagaimana dengan Anda? Di mana Sidon Anda? Kapan Anda merasa keluar dari zona nyaman Anda? Penggalangan dana? Penginjilan? Menjadi orang tua? Saat terjadi konflik? Berbicara di depan umum?<br />
<br />
Ayat dalam 2 Korintus 12:9 tertulis, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Bangkitlah, pergilah ke Sidon!<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa segala penghiburan, saya lebih menyukai dalam batasan yang nyaman dari zona nyaman saya sendiri. Tetapi saat saya menaati-Mu, saya tahu saya perlu mengambil risiko dan menghadapi ketidaknyamanan saya. Namun, saya masih ragu. Semoga saya menerima kasih karunia-Mu setiap hari untuk melangkah maju seperti Elia dalam pelayanan dan penggalangan dana. Amin.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hari ke-3: Mintalah, Maka akan Diberikan Kepadamu]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=10</link>
			<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 07:26:19 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=10</guid>
			<description><![CDATA[Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.<br />
Matius 7:7 (TB 2)<br />
<br />
Seorang pekerja Injil dari Uganda, “Henry,“ menceritakan kisah tentang Tuhan mengenai hal meminta. Ia ingin menghadiri Konferensi Pelatihan Pelayanan Safari 6 di Amerika tetapi tidak memiliki &#36;2.000 untuk tiket pesawat. Istrinya melihat betapa Henry sangat ingin pergi dan mendorongnya untuk tidak menyerah. Dalam kata-kata Henry…<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Saat saya duduk dan merenungkan jumlah uang yang besar yang saya butuhkan untuk tiket pesawat, saya melihat sebuah buku di rak saya yang seharusnya dikembalikan kepada seorang teman setahun sebelumnya. Karena malu, dan tidak tahu apakah dia sedang berada di kota, saya memutuskan untuk meninggalkan segalanya dan membawa buku itu ke kantornya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Dia mengangkat telepon saya, dan saya langsung pergi ke kantornya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Selama kunjungan kami untuk saling bertukar kabar, saya mengetahui bahwa teman saya sering bepergian untuk urusan bisnis. Dengan sedikit mengambil risiko, saya bertanya apakah dia pernah membagikan poin frequent flyer-nya dengan orang lain. “Kadang-kadang, tapi hanya KLM,“ katanya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Jadi, saya menyebutkan Konferensi Safari 6 dan menjelaskan betapa itu akan bermanfaat bagi saya dan pelayanan saya, lalu saya menelan ludah dan bertanya apakah dia akan mempertimbangkan untuk memberikan poin frequent flyer untuk perjalanan saya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Teman saya berkata, “Kantor KLM ada di seberang jalan. Ini kode frequent flyer saya—pergi dan beli tiket sendiri!"</span><br />
<br />
Dalam waktu dua jam, Henry berubah dari putus asa untuk pergi ke Safari 6 menjadi berjalan ke rumahnya dan dengan gembira menunjukkan kepada istrinya yang sedang berdoa untuk tiket pesawat pulang pergi! <br />
<br />
Apa yang terjadi di sini? Yang terpenting, Henry menyerahkan diri kepada tuntunan Tuhan untuk menghadiri konferensi tersebut. Tuhan mengetahui keinginan hatinya, Henry dan istrinya di sini berdoa tentang hal itu, dan dalam pemeliharaan Tuhan, Henry memperhatikan sebuah buku yang sudah lama tertunda di rak bukunya. Kesediaan Henry untuk meminta temannya mempertimbangkan untuk memberikan tiket pesawat menghasilkan tindakan kemurahan hati yang luar biasa. Dia tidak merencanakan atau memberi isyarat! Ia menyampaikan permohonan pelayanan yang berani dan jujur kepada seorang teman.<br />
<br />
Dalam bacaan kita hari ini, Yesus mengajak Anda untuk meminta, mencari, dan mengetuk … tanpa syarat. Bayangkan Yesus memanggil Anda dari takhta belas kasihan di Surga, Ayo, jangan malu. Mintalah sesuatu kepada-Ku!<br />
<br />
Mengikuti teks hari ini, Yesus berkata jika seorang anak meminta roti kepada ayahnya di dunia, akankah ayahnya memberinya batu? Jika ia meminta ikan kepada ayahnya, akankah ayahnya memberinya ular? Matius 7:11 menyimpulkan, “Ia memberikan  yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.“<br />
Bapa kita akan menjawab doa Anda dengan cara-Nya dan memberi Anda apa yang baik menurut hikmat-Nya yang kekal, bukan menurut keinginan Anda yang kecil atau terkadang egois. Janji ini adalah pembatas kehidupan doa Anda.<br />
<br />
Sahabatku, apa yang Anda minta kepada Bapa? Apa yang Anda cari? Apa yang Anda ketuk? Apakah tujuan Anda untuk “sekadar bertahan hidup“ atau untuk mencapai 100 persen dari anggaran Anda?<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Engkau datang kepada seorang Raja,</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Bawalah permohonan yang besar;</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Karena kasih karunia dan kuasa-Nya sedemikian rupa,</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Tidak ada seorang pun yang dapat meminta terlalu banyak.</span><br />
JOHN NEWTON, PEDAGANG BUDAK YANG BERTOBAT (1725-1807)<br />
<br />
Langkah pertama? Periksa rak buku Anda atau dorongan halus lainnya dari Roh Kudus!<br />
Kedua, siapa yang perlu mendengar visi pelayanan Anda dalam enam minggu ke depan?<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa di Surga, saya tidak menganggap Engkau menginginkan saya untuk meminta. Jadi sekarang, saya meminta kepada-Mu pendanaan penuh. Dan keberanian untuk mengundang teman dan kenalan untuk bergabung dalam pelayananku. Aku meminta kepada mereka, tetapi sebenarnya aku meminta kepada-Mu! Aku percaya kepada-Mu saat aku meminta, mencari, dan mengetuk. Amin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.<br />
Matius 7:7 (TB 2)<br />
<br />
Seorang pekerja Injil dari Uganda, “Henry,“ menceritakan kisah tentang Tuhan mengenai hal meminta. Ia ingin menghadiri Konferensi Pelatihan Pelayanan Safari 6 di Amerika tetapi tidak memiliki &#36;2.000 untuk tiket pesawat. Istrinya melihat betapa Henry sangat ingin pergi dan mendorongnya untuk tidak menyerah. Dalam kata-kata Henry…<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Saat saya duduk dan merenungkan jumlah uang yang besar yang saya butuhkan untuk tiket pesawat, saya melihat sebuah buku di rak saya yang seharusnya dikembalikan kepada seorang teman setahun sebelumnya. Karena malu, dan tidak tahu apakah dia sedang berada di kota, saya memutuskan untuk meninggalkan segalanya dan membawa buku itu ke kantornya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Dia mengangkat telepon saya, dan saya langsung pergi ke kantornya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Selama kunjungan kami untuk saling bertukar kabar, saya mengetahui bahwa teman saya sering bepergian untuk urusan bisnis. Dengan sedikit mengambil risiko, saya bertanya apakah dia pernah membagikan poin frequent flyer-nya dengan orang lain. “Kadang-kadang, tapi hanya KLM,“ katanya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Jadi, saya menyebutkan Konferensi Safari 6 dan menjelaskan betapa itu akan bermanfaat bagi saya dan pelayanan saya, lalu saya menelan ludah dan bertanya apakah dia akan mempertimbangkan untuk memberikan poin frequent flyer untuk perjalanan saya.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Teman saya berkata, “Kantor KLM ada di seberang jalan. Ini kode frequent flyer saya—pergi dan beli tiket sendiri!"</span><br />
<br />
Dalam waktu dua jam, Henry berubah dari putus asa untuk pergi ke Safari 6 menjadi berjalan ke rumahnya dan dengan gembira menunjukkan kepada istrinya yang sedang berdoa untuk tiket pesawat pulang pergi! <br />
<br />
Apa yang terjadi di sini? Yang terpenting, Henry menyerahkan diri kepada tuntunan Tuhan untuk menghadiri konferensi tersebut. Tuhan mengetahui keinginan hatinya, Henry dan istrinya di sini berdoa tentang hal itu, dan dalam pemeliharaan Tuhan, Henry memperhatikan sebuah buku yang sudah lama tertunda di rak bukunya. Kesediaan Henry untuk meminta temannya mempertimbangkan untuk memberikan tiket pesawat menghasilkan tindakan kemurahan hati yang luar biasa. Dia tidak merencanakan atau memberi isyarat! Ia menyampaikan permohonan pelayanan yang berani dan jujur kepada seorang teman.<br />
<br />
Dalam bacaan kita hari ini, Yesus mengajak Anda untuk meminta, mencari, dan mengetuk … tanpa syarat. Bayangkan Yesus memanggil Anda dari takhta belas kasihan di Surga, Ayo, jangan malu. Mintalah sesuatu kepada-Ku!<br />
<br />
Mengikuti teks hari ini, Yesus berkata jika seorang anak meminta roti kepada ayahnya di dunia, akankah ayahnya memberinya batu? Jika ia meminta ikan kepada ayahnya, akankah ayahnya memberinya ular? Matius 7:11 menyimpulkan, “Ia memberikan  yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.“<br />
Bapa kita akan menjawab doa Anda dengan cara-Nya dan memberi Anda apa yang baik menurut hikmat-Nya yang kekal, bukan menurut keinginan Anda yang kecil atau terkadang egois. Janji ini adalah pembatas kehidupan doa Anda.<br />
<br />
Sahabatku, apa yang Anda minta kepada Bapa? Apa yang Anda cari? Apa yang Anda ketuk? Apakah tujuan Anda untuk “sekadar bertahan hidup“ atau untuk mencapai 100 persen dari anggaran Anda?<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Engkau datang kepada seorang Raja,</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Bawalah permohonan yang besar;</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Karena kasih karunia dan kuasa-Nya sedemikian rupa,</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Tidak ada seorang pun yang dapat meminta terlalu banyak.</span><br />
JOHN NEWTON, PEDAGANG BUDAK YANG BERTOBAT (1725-1807)<br />
<br />
Langkah pertama? Periksa rak buku Anda atau dorongan halus lainnya dari Roh Kudus!<br />
Kedua, siapa yang perlu mendengar visi pelayanan Anda dalam enam minggu ke depan?<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa di Surga, saya tidak menganggap Engkau menginginkan saya untuk meminta. Jadi sekarang, saya meminta kepada-Mu pendanaan penuh. Dan keberanian untuk mengundang teman dan kenalan untuk bergabung dalam pelayananku. Aku meminta kepada mereka, tetapi sebenarnya aku meminta kepada-Mu! Aku percaya kepada-Mu saat aku meminta, mencari, dan mengetuk. Amin.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hari ke-2. Apakah Anda Mengandalkan Karya-Allah-yang-Mendahului dalam Hidup Anda?]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=9</link>
			<pubDate>Fri, 13 Feb 2026 14:02:13 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=9</guid>
			<description><![CDATA[Hari ke-2. Apakah Anda Mengandalkan Karya-Allah-yang-Mendahului dalam Hidup Anda?<br />
<br />
Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!“<br />
Yohanes 1:29<br />
<br />
Bagian Alkitab kita hari ini tidak ada hubungannya dengan penggalangan dana, namun memiliki hubungan yang sangat erat dengan penggalangan dana. Terutama ketika Anda merasa sendirian.<br />
<br />
Di suatu tempat bernama Betania, di sebelah timur Sungai Yordan, Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya. Yohanes tidak bergerak menuju Yesus—Yesuslah yang bergerak menuju Yohanes. Ini adalah contoh fisik dari kebenaran teologis yang agung. Di seluruh Alkitab, sebelum orang-orang bergerak menuju Allah, Dia bergerak menuju mereka. Saya menyebutnya karya-Allah-yang-mendahului.<br />
<br />
Roma 5:8b mengatakan, “Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.“ Dia tidak mati untuk kita karena kita mencari Dia. Dia bergerak menuju kita terlebih dahulu. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita“ (1 Yohanes 4:19).<br />
<br />
Dalam permohonan penggalangan dana Anda, penting untuk berbagi sejarah spiritual Anda. Dapatkah Anda mengingat detail bagaimana Yesus mendekati Anda? Mungkin kisah saya akan membangkitkan ingatan Anda.<br />
<br />
Di ruang bawah tanah gereja pedesaan kami di Iowa, tergantung sebuah lukisan Yesus mengetuk pintu. Saya merenungkan lukisan itu setiap hari Minggu. Sebagai seorang Presbyterian berusia lima tahun, saya berpikir agama adalah untuk orang tua. Namun, saya tidak bisa melupakan gambar itu.<br />
<br />
Setelah lulus SMA, seorang tetangga memberi saya buku renungan saku berisi ayat-ayat Alkitab, Mazmur, dan doa. Saya membawanya ke universitas tetapi hampir tidak pernah membacanya. Saya menjauh dari Tuhan, melakukan hal-hal yang saya tahu salah. Tetapi saya menghibur diri bahwa saya lebih saleh daripada teman-teman saya di tim bisbol.<br />
<br />
Suatu Sabtu sore, seorang mahasiswa pascasarjana datang ke kamar asrama saya dan meminta untuk berbicara tentang hal-hal spiritual. Saya dengan senang hati setuju, berpikir saya bisa membantunya. Ia menggambar Ilustrasi Jembatan tentang kehidupan kekal, dan membagikan Efesus 2:8-9: “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan …,“ tetapi saya tidak menyukai gagasan diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan oleh perbuatan baik.<br />
<br />
Kristus kembali mendekati saya selama pertemuan Kristen ketika seorang pengusaha dari Kansas City mengutip Wahyu 3:20, “Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk.“ Pikiran saya kembali ke lukisan di ruang bawah tanah gereja itu. Merasa bersalah atas kesombongan dan pembenaran diri saya, saya pergi ke kapel sore itu juga dan mengakui dosa-dosa saya. Dengan membayangkan lukisan itu, saya membuka pintu bagi Kristus.<br />
<br />
Lalu apa? Bukankah seharusnya saya merasa berbeda? Tidak ada bulu malaikat yang melayang turun dari Surga. Apakah itu nyata?<br />
<br />
Dua hari kemudian, kembali ke kampus, saya menceritakan kisah cabul kepada beberapa teman. Di tengah cerita, perasaan kotor menyelimuti saya. Saya terkejut. “Teman-teman,“ kataku, “saya tidak bisa menyelesaikan cerita ini.“ Dan saya pergi. Kristus telah menjadi nyata dan personal dalam hidup saya.<br />
<br />
Bagaimana dengan Anda? Bisakah Anda menelusuri bagaimana Kristus bergerak mendekati Anda—bagaimana Dia menjadi nyata bagi Anda? Jangan katakan perjalanan spiritual Anda membosankan! Mungkin tidak spektakuler, tetapi karya Allah tidak membosankan! Pendengar Anda mungkin akan merasa terhubung dengan kisah Anda dan mendekat kepada Kristus.<br />
<br />
Ketika Anda pergi untuk pertemuan penggalangan dana, Anda tidak sendirian. Tuhan telah bergerak mendekati Anda dan orang-orang yang Anda temui. Jangan abaikan “karya-Allah-yang-mendahului.“<br />
<br />
Pada pertemuan Anda, ceritakan tentang bagaimana pekerjaan Tuhan yang mendahului dalam hidup Anda menarik Anda kepada Kristus. Dan mintalah teman Anda untuk berbagi perjalanan spiritualnya juga. Ikatan seumur hidup terbentuk melalui percakapan yang bermakna ini.<br />
<br />
Dalam penggalangan dana Anda, apakah Anda mengandalkan karya-Allah-yang-mendahului?<br />
<br />
DOA<br />
Bapa di Surga, terima kasih karena Engkau telah berinisiatif untuk mendekati saya meskipun saya sering mengabaikan-Mu. Hari ini saya berani mengetahui bahwa Engkau juga bergerak mendekati calon mitra pemberi seperti ________________ dan _____________ Amin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Hari ke-2. Apakah Anda Mengandalkan Karya-Allah-yang-Mendahului dalam Hidup Anda?<br />
<br />
Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!“<br />
Yohanes 1:29<br />
<br />
Bagian Alkitab kita hari ini tidak ada hubungannya dengan penggalangan dana, namun memiliki hubungan yang sangat erat dengan penggalangan dana. Terutama ketika Anda merasa sendirian.<br />
<br />
Di suatu tempat bernama Betania, di sebelah timur Sungai Yordan, Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya. Yohanes tidak bergerak menuju Yesus—Yesuslah yang bergerak menuju Yohanes. Ini adalah contoh fisik dari kebenaran teologis yang agung. Di seluruh Alkitab, sebelum orang-orang bergerak menuju Allah, Dia bergerak menuju mereka. Saya menyebutnya karya-Allah-yang-mendahului.<br />
<br />
Roma 5:8b mengatakan, “Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.“ Dia tidak mati untuk kita karena kita mencari Dia. Dia bergerak menuju kita terlebih dahulu. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita“ (1 Yohanes 4:19).<br />
<br />
Dalam permohonan penggalangan dana Anda, penting untuk berbagi sejarah spiritual Anda. Dapatkah Anda mengingat detail bagaimana Yesus mendekati Anda? Mungkin kisah saya akan membangkitkan ingatan Anda.<br />
<br />
Di ruang bawah tanah gereja pedesaan kami di Iowa, tergantung sebuah lukisan Yesus mengetuk pintu. Saya merenungkan lukisan itu setiap hari Minggu. Sebagai seorang Presbyterian berusia lima tahun, saya berpikir agama adalah untuk orang tua. Namun, saya tidak bisa melupakan gambar itu.<br />
<br />
Setelah lulus SMA, seorang tetangga memberi saya buku renungan saku berisi ayat-ayat Alkitab, Mazmur, dan doa. Saya membawanya ke universitas tetapi hampir tidak pernah membacanya. Saya menjauh dari Tuhan, melakukan hal-hal yang saya tahu salah. Tetapi saya menghibur diri bahwa saya lebih saleh daripada teman-teman saya di tim bisbol.<br />
<br />
Suatu Sabtu sore, seorang mahasiswa pascasarjana datang ke kamar asrama saya dan meminta untuk berbicara tentang hal-hal spiritual. Saya dengan senang hati setuju, berpikir saya bisa membantunya. Ia menggambar Ilustrasi Jembatan tentang kehidupan kekal, dan membagikan Efesus 2:8-9: “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan …,“ tetapi saya tidak menyukai gagasan diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan oleh perbuatan baik.<br />
<br />
Kristus kembali mendekati saya selama pertemuan Kristen ketika seorang pengusaha dari Kansas City mengutip Wahyu 3:20, “Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk.“ Pikiran saya kembali ke lukisan di ruang bawah tanah gereja itu. Merasa bersalah atas kesombongan dan pembenaran diri saya, saya pergi ke kapel sore itu juga dan mengakui dosa-dosa saya. Dengan membayangkan lukisan itu, saya membuka pintu bagi Kristus.<br />
<br />
Lalu apa? Bukankah seharusnya saya merasa berbeda? Tidak ada bulu malaikat yang melayang turun dari Surga. Apakah itu nyata?<br />
<br />
Dua hari kemudian, kembali ke kampus, saya menceritakan kisah cabul kepada beberapa teman. Di tengah cerita, perasaan kotor menyelimuti saya. Saya terkejut. “Teman-teman,“ kataku, “saya tidak bisa menyelesaikan cerita ini.“ Dan saya pergi. Kristus telah menjadi nyata dan personal dalam hidup saya.<br />
<br />
Bagaimana dengan Anda? Bisakah Anda menelusuri bagaimana Kristus bergerak mendekati Anda—bagaimana Dia menjadi nyata bagi Anda? Jangan katakan perjalanan spiritual Anda membosankan! Mungkin tidak spektakuler, tetapi karya Allah tidak membosankan! Pendengar Anda mungkin akan merasa terhubung dengan kisah Anda dan mendekat kepada Kristus.<br />
<br />
Ketika Anda pergi untuk pertemuan penggalangan dana, Anda tidak sendirian. Tuhan telah bergerak mendekati Anda dan orang-orang yang Anda temui. Jangan abaikan “karya-Allah-yang-mendahului.“<br />
<br />
Pada pertemuan Anda, ceritakan tentang bagaimana pekerjaan Tuhan yang mendahului dalam hidup Anda menarik Anda kepada Kristus. Dan mintalah teman Anda untuk berbagi perjalanan spiritualnya juga. Ikatan seumur hidup terbentuk melalui percakapan yang bermakna ini.<br />
<br />
Dalam penggalangan dana Anda, apakah Anda mengandalkan karya-Allah-yang-mendahului?<br />
<br />
DOA<br />
Bapa di Surga, terima kasih karena Engkau telah berinisiatif untuk mendekati saya meskipun saya sering mengabaikan-Mu. Hari ini saya berani mengetahui bahwa Engkau juga bergerak mendekati calon mitra pemberi seperti ________________ dan _____________ Amin.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hari ke-1: Sembilan Kata Keuangan untuk Didoakan Setiap Hari]]></title>
			<link>https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=8</link>
			<pubDate>Fri, 13 Feb 2026 13:48:11 +0700</pubDate>
			<dc:creator><![CDATA[<a href="https://diskusi.kitanavina.id/member.php?action=profile&uid=4">bayuprobo</a>]]></dc:creator>
			<guid isPermaLink="false">https://diskusi.kitanavina.id/showthread.php?tid=8</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: large;" class="mycode_size"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Hari ke-1: Sembilan Kata Keuangan untuk Didoakan Setiap Hari</span></span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Matius 6:11 (TB2)</span><br />
<br />
Di awal pelayanan saya, saya mengeluh kepada rekan saya, Duane, bahwa kami sedang kesulitan keuangan. Dia mendengarkan dengan sabar, lalu bertanya, “Apakah kamu berdoa tentang keuanganmu? Apakah kamu berdoa tentang keuanganmu setiap hari?“<br />
<br />
Saya menjawab dengan lemah, “Tidak setiap hari.“<br />
<br />
Duane dengan cepat mendesak, “Jika aku jadi kamu, aku akan berdoa tentang hal itu setiap hari!“<br />
<br />
Nasihat yang bagus. Beberapa bulan kemudian, saat membaca Alkitab, saya sampai pada Doa Bapa Kami, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,“ dan nasihat Duane terpatri dalam hati saya.<br />
<br />
Doa Bapa Kami berisi enam permohonan. Tiga permohonan pertama adalah tentang Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan kata kuncinya adalah: ‘Mu’. Doa Bapa Kami berisi enam permohonan. Tiga permohonan pertama adalah<br />
<ul class="mycode_list"><li>Dikuduskanlah nama-Mu.<br />
</li>
<li>Datanglah Kerajaan-Mu.<br />
</li>
<li>Jadilah kehendak-Mu.<br />
</li>
</ul>
<br />
Tiga permintaan selanjutnya berkaitan dengan orang-orang di bumi,<br />
dan kata kuncinya adalah ‘kami’:<br />
<ul class="mycode_list"><li>Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.<br />
</li>
<li>Ampunilah kesalahan kami.<br />
</li>
<li>Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan (termasuk lepaskanlah kami dari yang jahat).<br />
</li>
</ul>
<br />
Permintaan #1-3 bersifat teologis, #5 bersifat relasional, dan #6 adalah kerinduan spiritual yang luhur secara moral. Tetapi #4 benar-benar membumi. Yesus, Anak Allah, manusia paling spiritual yang pernah hidup, berdoa tentang makanan fisik!<br />
<br />
Dua bab sebelumnya di padang gurun, Yesus berkata kepada Iblis, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah“ (Matius 4:4). Sepanjang sejarah, para pertapa yang sangat spiritual hidup sederhana, kelaparan demi mencapai kesucian. Mereka menyimpulkan bahwa roti tidak penting. Tetapi Yesus tidak berkata, “Manusia hidup tanpa perlu makanan <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">sama sekali</span>.“<br />
<br />
Para pekabar Injil, Anda memiliki pikiran rohani, dipanggil untuk mengajar di semesta surgawi, tetapi jangan mengabaikan alam jasmani. Meskipun Anda “... dijadikan dengan dahsyat dan ajaib“ (Mazmur 139:14), Anda tetap membutuhkan makanan!<br />
<br />
Namun ingatlah, kita berdoa untuk makanan sehari-hari, bukan sekadar kue, seperti yang diungkapkan secara humoris oleh penulis, Dale Bruner, dalam <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Matthew, a Commentary</span>.<br />
<br />
Ini juga tentang makanan harian, bukan persediaan makanan untuk 10 tahun. Ini hanya untuk hari ini. Saat kita berdoa memohon makanan “hari ini,“ kita mengakui ketergantungan kita kepada Tuhan “hari ini“ dan setiap hari. Itulah mengapa saya membawa anggaran bulanan saya—jumlah yang tepat—kepada Tuhan setiap hari dalam doa.<br />
<br />
Perhatikan juga bahwa doa Bapa Kami bersifat kolektif—makanan kami, bukan makanan saya sehari-hari. Selain diri kita sendiri, marilah kita berdoa untuk mereka yang tidak memiliki makanan. Kata “kami“ mengingatkan kita untuk memikirkan orang lain.<br />
<br />
Akhirnya, doa ini ditujukan kepada Bapa kita di Surga—sumber sejati kita. Yesus mengangkat pandangan kita ke langit—melampaui mitra pemberi, melampaui rekening tabungan, melampaui gaji tetap. Semua itu bisa lenyap seperti bulu bunga dandelion yang tertiup angin musim panas.<br />
<br />
Seorang misionaris sedang berbicara dengan seorang teman di luar gereja mereka pada suatu Minggu pagi. Temannya bertanya kepada misionaris itu apakah ia mengumpulkan dana pribadi atau dibayar melalui dana umum lembaga tempatnya bekerja. Misionaris itu menjawab dengan saleh, “Saya mempercayakan diri kepada Tuhan untuk penghasilan saya.“ Temannya terdiam sejenak, lalu berkata, “Saya memiliki perusahaan percetakan dengan tiga karyawan, dan saya juga percaya kepada Tuhan untuk penghasilan saya.“ Sungguh pengingat yang kuat bahwa kita bukanlah satu-satunya yang mempercayai Tuhan untuk penghasilan kita!<br />
<br />
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang biasa.“ Janganlah kita mengandalkan kemampuan komunikasi kita, visi kita yang cemerlang, atau daftar email kita. Marilah kita setiap hari meminta roti kepada Bapa kita yang setia. Dialah sang sumber.<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">“Di balik roti ada tepung seputih salju; Dan di balik tepung ada penggilingan. Dan di balik penggilingan ada gandum dan hujan, Dan matahari dan kehendak Sang Bapa.“</span><br />
- MALTBIE D. BABCOCK, PENDETA AMERIKA (1858-1901)<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa di Surga, saya mengaku saya lalai untuk selalu mengandalkan Engkau setiap hari sebagai sumber kami. Tetapi sekarang saya memohon kepada-Mu lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Dan tolong tunjukkan pada saya cara cara menolong orang lain di dunia ini yang kekurangan makanan. Amin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: large;" class="mycode_size"><span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">Hari ke-1: Sembilan Kata Keuangan untuk Didoakan Setiap Hari</span></span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.</span><br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Matius 6:11 (TB2)</span><br />
<br />
Di awal pelayanan saya, saya mengeluh kepada rekan saya, Duane, bahwa kami sedang kesulitan keuangan. Dia mendengarkan dengan sabar, lalu bertanya, “Apakah kamu berdoa tentang keuanganmu? Apakah kamu berdoa tentang keuanganmu setiap hari?“<br />
<br />
Saya menjawab dengan lemah, “Tidak setiap hari.“<br />
<br />
Duane dengan cepat mendesak, “Jika aku jadi kamu, aku akan berdoa tentang hal itu setiap hari!“<br />
<br />
Nasihat yang bagus. Beberapa bulan kemudian, saat membaca Alkitab, saya sampai pada Doa Bapa Kami, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,“ dan nasihat Duane terpatri dalam hati saya.<br />
<br />
Doa Bapa Kami berisi enam permohonan. Tiga permohonan pertama adalah tentang Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan kata kuncinya adalah: ‘Mu’. Doa Bapa Kami berisi enam permohonan. Tiga permohonan pertama adalah<br />
<ul class="mycode_list"><li>Dikuduskanlah nama-Mu.<br />
</li>
<li>Datanglah Kerajaan-Mu.<br />
</li>
<li>Jadilah kehendak-Mu.<br />
</li>
</ul>
<br />
Tiga permintaan selanjutnya berkaitan dengan orang-orang di bumi,<br />
dan kata kuncinya adalah ‘kami’:<br />
<ul class="mycode_list"><li>Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.<br />
</li>
<li>Ampunilah kesalahan kami.<br />
</li>
<li>Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan (termasuk lepaskanlah kami dari yang jahat).<br />
</li>
</ul>
<br />
Permintaan #1-3 bersifat teologis, #5 bersifat relasional, dan #6 adalah kerinduan spiritual yang luhur secara moral. Tetapi #4 benar-benar membumi. Yesus, Anak Allah, manusia paling spiritual yang pernah hidup, berdoa tentang makanan fisik!<br />
<br />
Dua bab sebelumnya di padang gurun, Yesus berkata kepada Iblis, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah“ (Matius 4:4). Sepanjang sejarah, para pertapa yang sangat spiritual hidup sederhana, kelaparan demi mencapai kesucian. Mereka menyimpulkan bahwa roti tidak penting. Tetapi Yesus tidak berkata, “Manusia hidup tanpa perlu makanan <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">sama sekali</span>.“<br />
<br />
Para pekabar Injil, Anda memiliki pikiran rohani, dipanggil untuk mengajar di semesta surgawi, tetapi jangan mengabaikan alam jasmani. Meskipun Anda “... dijadikan dengan dahsyat dan ajaib“ (Mazmur 139:14), Anda tetap membutuhkan makanan!<br />
<br />
Namun ingatlah, kita berdoa untuk makanan sehari-hari, bukan sekadar kue, seperti yang diungkapkan secara humoris oleh penulis, Dale Bruner, dalam <span style="font-style: italic;" class="mycode_i">Matthew, a Commentary</span>.<br />
<br />
Ini juga tentang makanan harian, bukan persediaan makanan untuk 10 tahun. Ini hanya untuk hari ini. Saat kita berdoa memohon makanan “hari ini,“ kita mengakui ketergantungan kita kepada Tuhan “hari ini“ dan setiap hari. Itulah mengapa saya membawa anggaran bulanan saya—jumlah yang tepat—kepada Tuhan setiap hari dalam doa.<br />
<br />
Perhatikan juga bahwa doa Bapa Kami bersifat kolektif—makanan kami, bukan makanan saya sehari-hari. Selain diri kita sendiri, marilah kita berdoa untuk mereka yang tidak memiliki makanan. Kata “kami“ mengingatkan kita untuk memikirkan orang lain.<br />
<br />
Akhirnya, doa ini ditujukan kepada Bapa kita di Surga—sumber sejati kita. Yesus mengangkat pandangan kita ke langit—melampaui mitra pemberi, melampaui rekening tabungan, melampaui gaji tetap. Semua itu bisa lenyap seperti bulu bunga dandelion yang tertiup angin musim panas.<br />
<br />
Seorang misionaris sedang berbicara dengan seorang teman di luar gereja mereka pada suatu Minggu pagi. Temannya bertanya kepada misionaris itu apakah ia mengumpulkan dana pribadi atau dibayar melalui dana umum lembaga tempatnya bekerja. Misionaris itu menjawab dengan saleh, “Saya mempercayakan diri kepada Tuhan untuk penghasilan saya.“ Temannya terdiam sejenak, lalu berkata, “Saya memiliki perusahaan percetakan dengan tiga karyawan, dan saya juga percaya kepada Tuhan untuk penghasilan saya.“ Sungguh pengingat yang kuat bahwa kita bukanlah satu-satunya yang mempercayai Tuhan untuk penghasilan kita!<br />
<br />
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang biasa.“ Janganlah kita mengandalkan kemampuan komunikasi kita, visi kita yang cemerlang, atau daftar email kita. Marilah kita setiap hari meminta roti kepada Bapa kita yang setia. Dialah sang sumber.<br />
<br />
<span style="font-style: italic;" class="mycode_i">“Di balik roti ada tepung seputih salju; Dan di balik tepung ada penggilingan. Dan di balik penggilingan ada gandum dan hujan, Dan matahari dan kehendak Sang Bapa.“</span><br />
- MALTBIE D. BABCOCK, PENDETA AMERIKA (1858-1901)<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;" class="mycode_b">DOA</span><br />
Bapa di Surga, saya mengaku saya lalai untuk selalu mengandalkan Engkau setiap hari sebagai sumber kami. Tetapi sekarang saya memohon kepada-Mu lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Dan tolong tunjukkan pada saya cara cara menolong orang lain di dunia ini yang kekurangan makanan. Amin.]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>